Senin, 20 Januari 2014

definisi RULA dan STRAIN INDEX (ergonomi)

RULA..


2.1       Definisi Rapid Upper Limb Assesment (RULA)
            Rula (Rapid Upper Limb Assesment) merupakan metode ergonomi yang digunakan untuk mengurangi  terjadinya resiko yang berhubungan dengan pekerjaan seseorang pada tubuh bagian atas. RULA ditemukan oleh Dr. Lynn Mc Atamney dan Profesor E. Nigel Corlett pada tahun 1993 di Nothingham, Inggris. RULA dapat membantu untuk mengurangi resiko cedera pada seorang pekerja. Analisis RULA dapat dilakukan sebelum dan sesudah demonstrasi untuk mengetahui apakah resiko cedera sudah berkurang (Braveman, 2012).
RULA merupakan alat untuk mengevaluasi faktor-faktor resiko postur, konstraksi otot statis, gerakan repetitive, dan gaya yang digunakan untuk suatu pekerjaan tertentu. Setiap faktor memiliki kontribusi masing-masing terhadap suatu nilai yang dihitung. Nilai-nilai tersebut di jumlah dan diterapkan pada tabel untuk menentukan grandscore. Grandscore menunjukkan bahwa sejauh mana pekerja dapat terpapar pada faktor-faktor resiko dan berdasarkan nilai, dapat juga disarankan tindakan yang perlu diambil (Elearning gunadarma, 2006).
RULA digunakan dengan cara mengevaluasi postur tubuh, kekuatan yang dibutuhkan dan gerakan otot pekerja pada saat sedang bekerja. Adapun tujuan dari metode RULA adalah menyediakan perlindungan yang cepat dan tepat guna dalam pekerjaan, memberikan hasil yang dapat dimasukkan dalam penilaian ergonomi yang lebih luas, mendokumentasikan postur tubuh saat kerja, scoring dilakukan terhadap kedua sisi tubuh kanan dan kiri, dan jarak pergerakan dari setiap bagian tubuh diberi nomor. Terdapat lima faktor eksternal pada RULA yang dapat menjadi faktor-faktor resiko yang berhubungan erat dengan terjadinya cedera pada tubuh bagian atas, yaitu sebagai berikut:
1. Jumlah gerakan.
2. Kerja otot statis.
3. Beban.
4. Dimensi Peralatan.
5. Lama kerja tanpa istirahat (Harvian & Murti, 2013).
            Beberapa perbedaaan yang terdapat pada setiap individu pekerja pada metode RULA antara lain adalah postur tubuh, kecepatan gerakan, akurasi gerakan, frekuensi dan lama delay, umur dan pengalaman, dan juga faktor sosial. Oleh sebab itu, RULA di desain untuk membahas faktor-faktor resiko terutama pada empat faktor eksternal pertama. Adapun tujuan dari metode RULA adalah sebagai berikut ini:
1.    Sebagai metode yang dapat dengan cepat mengurangi resiko cedera pada pekerja, khususnya yang berkaitan dengan tubuh bagian atas.
2.    Mengidentifikasi bagian tubuh yang mengalami kelelahan dan kemungkinan terbesar mengalami cedera.
3.    Memberi hasil analisis dan perbaikan (Bharath, 2011).

2.2       Langkah-Langkah dalam Mendapatkan Hasil RULA
            Terdapat beberapa langkah-langkah dalam mendapatkan hasil dari metode RULA. Langkah-langkah tersebut ada tiga, yaitu adalah sebagai berikut:
1. Merekam postur tubuh ketika sedang bekerja.
    Bagian tubuh yang dianalisa meliputi: lengan (lengan atas), siku tangan (lengan bawah), pergelangan tangan, leher, trunk, dan kaki. Padalangkah ini, peneliti merekam dan memasukkan data postur tubuh pekerja pada software  RULA. Kemudian, dari data tersebut dapat diketahui bagian tubuh yang mempunyai kemungkinan terbesar mengalami cedera.
2. Menghitung nilai.
     Menghitung nilai data hasil rekaman yang telah dimasukkan software, dihitung nilainya untuk masing-masing bagian tubuh.
3. Action Level
     Hasil dari nilai yang didapatkan, kemudian diklasifikasikan menurut action level (Braveman, 2012).

2.3       Asumsi dan Pembatasan pada RULA Survei
Nilai dari model RULA dipengaruhi oleh asumsi yang membatasi ketergantungannya dan cakupan aplikasinya. Namun, tool pada metode RULA yang merupakan hal berguna ketika diaplikasikan dengan situasi yang tepat dengan menggunakan keputusan yang tepat atas pembatasannya. Asumsi dan pembatasannya adalah sebagai berikut:
1. Faktor resiko yang dipilih di evaluasi. Tool ini tidak mempertimbangkan faktor
resiko alat gerak atas seperti:
a. Waktu tanpa istirahat.
b. Variasi individual pekerja seperti umur, pengalaman, ukuran atau kekuatan, atau sejarah klinikal.
c. faktor lingkungan tempat kerja.
d. faktor psikofisikal.
2. Pengamatan postur pekerja tidak meliputi analisis terhadap posisi jari (namun, gaya yang mungkin terjadi di sepanjang jari-jari tetap diperhitungkan).
3.  Waktu tidak diukur. Faktor ini penting ketika mempertimbangkan kelelahan otot dan kerusakan jaringan lunak dari kontraksi dan gaya isometrik.
4. Gerakan yang berulang-ulang diberikan berat marginal.
5. Tidak dianjurkan adanya pengabaian kerja khusus (Braveman, 2012).
           
2.4       Pengumpulan Data pada RULA Survei
Pengumpulan data pada RULA di desain untuk menganalisis pekerjaan yang ada dengan cara seperti menggunakan checklist. Tool ini dapat digunakan oleh engineer yang merancang sebuah proses kerja bila dapat dibayangkan posisi tubuh, kontraksi otot statis, gerakan berulang, dan gaya. Cara termudah untuk menggunakan tool ini adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaannya pada saat anda mereview pekerjaan anda. Memasukkan data yang Anda kumpulkan ke komputer untuk menganalisis pekerjaannya. Amati pekerja dalam beberapa siklus kerja untuk memilih pekerjaan yang harus di evaluasi. Posisi pekerja sebagai berikut:
1. Posisi yang ditahan untuk sebagian besar waktu dari siklus kerja.
2. Posisi yang ditahan ketika terdapat muatan kerja terberat.
3.  Posisi yang ditahan ketika posisi postur berada pada tingkat terburuk (pembengkokan sendi yang besar).

Salah satu sisi dari tubuh yang diuji. Apabila terdapat beberapa posisi atau aktivitas faktor risiko pekerjaan yang tinggi yang berhubungan dengan pekerjaan, survei setiap masalah tersebut (Harvian & Murti, 2013).

DAFTAR PUSTAKA


Bharath, Gilly. 2011. Proper Lifting Techniques. http://gillytherapy.com/2011/proper-lifting-techniques/...../ (diakses 18 November 2013).

Braveman, Brent & J. Page, Jill. 2012. WORK: Promoting Participation & Productivity Through Occupational Theraphy. Amerika: F.A Davis Company.

Harvian & Murti Astuti. 2013. Analisis Perbaikan Postur Kerja Operator Menggunakan Metode RULA Untuk Mengurangi Resiko MUSCULOSKELETAL DISORDERS. Malang.


E-learning Gunadarma, Modul Pelatihan. 2006. Perancangan Ergonomika Menggunakan Ergoweb 4.0. Jakarta: Universitas Gunadarma. (diakses 20 November 2013).



STRAIN INDEX

2.1       Definisi Strain Index
            Strain Index merupakan teknik yang mengevaluasi tingkatan resiko dari sebuah pekerjaan yang dapat menyebabkan cedera pada tangan, pergelangan tangan, lengan atas, atau siku (distal upper extremity). Metode strain index semi kuantitatif dapat mengevaluasi enam variabel kerja seperti intensitas kerja, durasi kerja, kerja per menit, postur tangan atau pergelangan tangan, kecepatan kerja, dan durasi kerja per hari (Braveman & J.Page, 2012).
            Strain Index merupakan sebuah tool pada metode ergonomi yang mengevaluasi beberapa tingkatan resiko kerja yang menyebabkan cedera. Cedera tersebut yaitu pada tangan, pergelangan tangan, lengan, lengan bawah, pinggang, bahu, dan siku. Analisis dilakukan dengan cara sebagai berikut ini:
1. Menggunakan checklist atau centang.
2. Menghitung banyaknya suatu kondisi yang memunculkan resiko pekerja.
3. Memperhitungkan pengaruh interaksi antara faktor-faktor yang memunculkan resiko pekerjaan (E-learning gunadarma, 2006).
            Proses pengumpulan data pada Strain Index meliputi proses penggunaan pada tool strain index adalah mengumpulkan data, pembobotan setiap variabel kerja, menentukan pengali untuk setiap variabel, mengalikan faktor pengali untuk setiap score Strain Index, dan mengevaluasi score pada Strain Index. Variabel semi kuantitatif pada strain index pekerjaan diberikan sebuah nilai yang dinamakan multiplier atau dinamakan pengali. Hasil dari pengalian tersebut pada keenam variabel kerja merupakan angka yang disebut dengan Strain Index Score. Score tersebut akan dibandingkan dengan gradien yang kemudian akan mengidentifikasikan tingkat resiko pekerjaan. Strain index dikembangkan karena metode penilaian paparan sebelumnya yang subyektif dan tidak memiliki standarisasi dan tidak melibatkan pemeriksaan interaksi faktor resiko, dikembangkan di Amerika Serikat juga dijelaskan di dalam literatur pada tahun 1995 (Salvendy, 2000).

2.2       Pengaplikasian Strain Index
            Strain Index sepenuhnya dijelaskan dalam Moore, JS dan Garg, A, “The Strain Index: A Usulan Metode untuk Menganalisis Jobs Resiko Distal Ekstremitas Atas Gangguan”, America Industrial Hygiene Association Journal”, pada Desember 1995. Dikembangkan untuk membedakan antara pekerjaan yang berhubungan dengan gangguan ekstremitas atas distal dari orang-orang. Strain index menggunakan penilaian yang subyektif dikembangkan dan mirip dengan skala Borg (Moore & Garg, 1995).
Pengaplikasian Job Strain Index adalah mengevaluasi resiko-resiko pada cedera khususnya untuk tugas menggunakan tangan secara intensif dan berkala. Peringkat kualitatif dapat ditemukan dengan mengamati satu atau lebih pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Peringkat yang berdasarkan uraian lisan dalam JSI atau singkatan dari Job Strain Index beberapa faktor kuantitatif menggunakan panduan sebagai berikut untuk menemukan peringkat dalam faktor kuantitatif:
1.  Intensitas pengusahaan, gaya yang dibutuhkan untuk kinerja tunggal pada tugas.
2. Durasi pada pekerja, proporsi dari siklus tenaga pada pekerja waktu siklus adalah panjang rata-rata waktu yang terkait dengan masing-masing tenaga atau termasuk waktu pemulihan, panjang rata-rata tenaga dibagi dengan waktu siklus dikalikan dengan seratus memberikan durasi persen.
3.  Upaya per menit, suatu upaya yang merupakan frekuensi tenaga dan dapat ditemukan dari tenaga waktu siklus.
4. Tangan (Wrist Posture), berperingkat subyektif bukan oleh pengukuran.
5. Kecepatan kerja.
6. Durasi per hari adalah jumlah total waktu kerja yang dipakai (Salvendy, 2000).

2.3       Asumsi dan Pembatasan pada Strain Index
            Nilai-nilai pada metode atau model ergonomi The Strain Index diperngaruhi oleh asumsi-asumsi dan pembatasan yang membatasi ketergantungan dan cakupan pada aplikasinya. Namun, pada metode strain index merupakan hal berguna ketika diaplikasikan dengan momen yang tepat dengan menggunakan keputusan yang konkrit atas pembatasannya. Asumsi dan pembatasannya adalah sebagai berikut ini:
1. The Strain Index tidak mengevaluasi vibrasi segmental (seperti getaran pada peralatan tangan); sehingga, tool ini tidak akan memprediksikan risiko dari sindrom vibrasi pada lengan-tangan (hand-arm vibration syndrome).
2. The Strain Index tidak mengevaluasi kontak trauma sehingga, pada metode  ini tidak akan memprediksikan resiko hypothenar hammer syndrome.
3. The Strain Index dibatasi untuk memprediksikan resiko neuromusculoskeletal pada alat gerak atas.
4. Tiga dari enam variabel kerja secara subyektif di analisis oleh analis.
5.  Nilai pengali berdasar pada opini profesional penulis dengan bantuan dari prinsip fisiologis, biomekanis, dan epidemiologis yang bertentangan dengan hubungan matematis antara variabel kerja.

6. The Strain Index telah diuji hanya pada 25 jenis pekerjaan pada suatu industri (Salvendy, 2000). 

DAFTAR PUSTAKA


Braveman, Brent & J. Page, Jill. 2012. WORK: Promoting Participation & Productivity Through Occupational Theraphy. Amerika Serikat: F.A Davis Company.
E-learning Gunadarma, Modul Pelatihan. 2006. Perancangan Ergonomika Menggunakan Ergoweb 4.0. Jakarta: Universitas Gunadarma. (diakses 20 November 2013).
Moore, JS & Garg, A. 1995. "The Strain Index: A Proposed Method to Analyze Jobs for Risk of Distal Upper Extremity Disorders. Amerika Serikat: America Industrial Hygiene Association Journal.

Salvendy, Gavriel. 2000. HANDBOOK OF INDUSTRIAL ENGINEERING: Technology and Operations Management. Philadelphia, Amerika Serikat: Westline Institute of Industrial Engineers.

Senin, 06 Januari 2014

Tugas II Softskill KEWIRAUSAHAAN

Nama              : Baskoro Adhi Nugroho
NPM               : 31410334
Kelas               : 4id03
Jurusan          : Teknik Industri
Fakultas         : Teknologi Industri
Mata Kuliah  : Kewirausahaan



          Perencanaan adalah proses menentukan bagaimana organisasi bisa mencapai tujuannya, proses menentukan dengan tepat apa yang dilakukan organisasi untuk mencapai tujuannya. Tujuan perencanaan organisasi adalah mempunyai dua maksud yaitu perlindungan dan kesepakatan (protective dan affirmative). Maksud dari protektif adalah meminimalisirkan resiko dengan mengurangi ketidakpastian di sekitar kondisi bisnis dan menjelaskan konsekuensi tindakan manajerial yang saling berhubungan. Tujuan dari affirmatif adalah meningkatkan tingkat keberhasilan organisasional.
Koontz O’Donnel menyatakan maksud perencanaan adalah : “untuk melancarkan pencapaian usaha dan tujuan”

Kerugian dan Keuntungan Perencanaan

Keuntungan Perencanaan :
1.      Membantu wirausahawan berorientasi ke masa depan
2.      Koordinasi keputusan yang tidak dibuat sekarang tanpa adanya gagasan tentang bagaimana ia akan mempengaruhi keputusan yang harus dibuat besok
3.      Perencanaan menekan tujuan-tujuan organisasional sehingga wirausahawan secara konstan dalam pencapaian tujuan organisasi

Kerugian Perencanaan :
Penekanan pada program perencanaan akan memakan banyak waktu manajemen sehingga manajemen harus membagi antara waktu yang digunakan untuk perencanaan dengan waktu yang digunakan untuk fungsi manajemen lainnya seperti pemgorganisasian, mempengaruhi dan pengawasan.
Sumber:
id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan‎
elearning.gunadarma.ac.id/.../bab10-perencanaan_organisasi_kewirausah..

Teori Organisasi Klasik
Henry Fayol adalah seorang industrialis Perancis. Peranan Fayol dapat disejajarkan dengan Taylor, dua tokoh ini mengemukakan hal yang sama bahwa ada prinsip-prinsip manajemen tertentu yang harus diajarkan dan dipelajari oleh para manajer dan karyawan. Tapi kedua tokoh tersebut berbeda dalam titik perhatiannya, dimana Fayol menitikberatkan pada manjer tingkat bawah, sedangkan Taylor menitik beratkan pada manajer tingkat menengah dan atas.

Fayol membagi manajemen menjadi lima unsur, dan fungsi ini dikenal sebai fungsionalisme
yaitu :
1.      Perencanaan
2.      Pengorganisasian
3.      Pemberian Perintah
4.      Pengkoordinasian
5.      Pengawasan

Fayol membagi enam kegiatan manajemen, yaitu :
1.      Teknik Produksi dan Manufakturing Produk
2.      Komersial
3.      Keuangan
4.      Keamanan
5.      Akuntansi
6.      Manajerial

Henry Fayol mengemukakan 14 prinsip manajemen, yaitu :
1.      Division of Work
Adanya spesialisasi dalam pekerjaan, dimana dengan spesialisasi dapat meningkatkan efisiensi pelaksaan kerja.
2.      Authority and Responsibility
Wewenang yaitu hak untuk memberi perintah dan kekuasaan untuk meminta dipatuhi. Tanggung jawab yaitu tugas dan fungsi yang harus dikerjakan, untuk ini diperlukan wewenang dari pihka diatasnya. Semua ini diperlukan sangsi agar dipatuhi oleh orang yang menerima.
3.      Discipline
Melakukan apa yang sudah menjadi persetujuan bersama, disiplin ini sangat penting dalam tercapainya tujuan bersama, sebab tanpa ini tidak akan mencapai kemajuan.
4.      Unity of Command
Setiap bawahan hanya menerima instruksi dari seorang atasan saja untuk menghilangkan kebingungan dan saling lempar tanggung jawab. Bila ini dilanggar maka wewenang berkurang, disiplin terancam dan stabilitas goyah.
5.      Unity of Direction
Seluruh kegiatan dalam organisasi yang mempunyai tujuan yang sama harus diarahkan oleh seorang manajer.
6.      Subordination of Individual Interest to Generate Interest
Kepentingan seserang tidak boleh di atas kepentingan bersama/organisasi
7.      Remuneration
Gaji bagi pegawai merupakan harga servis atau layanan yang diberikan. Kompensasi harus adil baik bagi karyawan maupun bagi pemilik.
8.      Centralization
Sentralisasi dan Desentralisasi merupakan pembagian kekuasaan.
9.      Scalar Chain (garis wewenang)
Prinsipnya mempermudah komunikasi antara pegawai yang setingkat.
10.  Order
Hendaknya setiap orang ditempatkan pada posisi yang tepat untuk mereka, berdasarkan pada kemampuan, bakat dan minatnya.
11.  Equity
Harus ada persamaan perlakuan dalam organisasi.
12.  Stability of Tenure Personnel
Turn over tenaga kerja yang tinggi tidak baik bagi pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi.
13.  Initiative
Bawahan diberi kekuasaan dan kebebasan di dalam mengeluarkan pendapatnya, menjalankan dan menyelesaikan rencananya, walaupun ada kesalahan yang mungkin terjadi.
14.  Esprit The Corps
Persatuan adalah keleluasaan, pelaksanaan operasi organisasi perlu memiliki kebanggaan, keharmonisan dan kesetiaan dari para anggotanya yang tercermin dalam semangat korps.

Sumber:


Keuntungan dari organisasi dalam bentuk pembagian tenaga kerja adalah:
1.      Adanya pembagian tugas yang jelas antara kelompok lini yang melakukan tugas pokok organisasi dan kelompok staf yang melakukan kegiatan penunjang.
2.      Asas spesialisasi yang ada dapat dilanjutkan menurut bakat bawahan masing-masing.
3.      Prinsip “the right man on the right place” dapat diterapkan dengan mudah.
4.      Koordinasi dalam setiap unit kegiatan dapat diterapkan dengan mudah.
5.      Dapat digunakan dalam organisasi yang lebih besar.
Keburukan dari organisasi bentuk pembagian tenaga kerja adalah:
1.      Pimpinan lini sering mengabaikan nasehat atau saran dari staf.
2.      Pimpinan staf sering mengabaikan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pimpinan lini.
3.      Adanya kemungkinan pimpinan staf melampaui’batas kewenangannya.
4.      Perintah lini dan perintah staf sering membingungkan anggota organisasi karena kedua jenis hirarki sering tidak seirama dalam memandang sesuatu.

Sumber:
elearning.gunadarma.ac.id/.../bab11-dasar_dasar_pengorganisasian.pdf?

Chaster I. Barnard
Dalam bukunya The Function of The Executive mengatakan bahwa organisasi merupakan sistem kegiatan yang diarahkan pada tujuan yang hendak dicapai. Fungsi utama manajemen yaitu perumusan tujuan dan pengadaan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Menurut teorinya yang diberi nama teori penerimaan mengatakan bahwa seorang bawahan akan menerima perintah hanya bila dia memahami dan mampu serta berkeinginan untuk mencapainya. Barnard adalah pelopor penggunaan pendekatan sistem. Garis pedoman dengan nama tindakan yang bisa diambil oleh seorang manajer bisa ditaati dan diterima. Menurut barnard adalah:
1. Saluran formal dari komunikasi digunakan oleh manajer dan dikenal oleh semua orang.
2.  Setiap anggota organisasi telah menerima saluran komunikasi formal melalui perintah atasan.
3. Lini komunikasi antara manajer dan bawahan bersifat langsung.
4. Suatu perintah secara otentik memang berasal dari manajer.
5. Manajer memiliki ketrampilan komunikasi yang memadai.
6. Manajer mempunyai dan menggunakan lini komunikasi formal.
7. Rantai komando yang lengkap.



sumber:
Mukhyi, Muhammad Abdul., Imam Hadi Saputro (1995). Pengantar Manajemen Umum (Untuk STIE). Jakarta: Universitas Gunadarma.
elearning.gunadarma.ac.id/.../bab13-pengorganisasian_aktivitas_individ...‎